Tampilkan postingan dengan label Pertengahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertengahan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Februari 2013

TARI GANDRUNG

         Gandrung Banyuwangi adalah salah satu jenistarian yang berasal dari Banyuwangi. Istila Kata ”Gandrung” diartikan sebagai terpesonanya masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat.
Pertinjukan
           Sejarah Tari Gandrung Banyuwangii dibawakan sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat setiap habis panen. Kesenian ini masih satu genre dengan seperti Ketuk Tilu di Jawa Barat, Tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger di wilayah Banyumas dan Joged Bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan).Gandrung merupakan seni pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik khas perpaduan budaya Jawa dan Bali. Tarian dilakukan dalam bentuk berpasangan antara perempuan (penari gandrung) dan laki-laki (pemaju) yang dikenal dengan “paju”
         Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Kenyataannya, Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi.
Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. Menurut kebiasaan, pertunjukan lengkapnya dimulai sejak sekitar pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang subuh (sekitar pukul 04.00).

Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi
          Kesenian gandrung Banyuwangi muncul bersamaan dengan dibabadnya hutan “Tirtagondo” (Tirta arum) untuk membangun ibu kota Balambangan pengganti Pangpang (Ulu Pangpang) atas prakarsa Mas Alit yang dilantik sebagai bupati pada tanggal 2 Februari 1774 di Ulupangpang Demikian antara lain yang diceritakan oleh para sesepuh Banyuwangi tempo dulu.
Mengenai asalnya kesenian Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi Joh Scholte dalam makalahnya antara lain menulis sebagai berikut: Asalnya lelaki jejaka itu keliling ke desa-desa bersama pemain musik yang memainkan kendang dan terbang dan sebagai penghargaan mereka diberi hadiah berupa beras yang mereka membawanya didalam sebuah kantong. (Gandroeng Van Banyuwangi 1926, Bab “Gandrung Lelaki”).
       Apa yang ditulis oleh Joh Scholte tersebut, tak jauh berbeda dengan cerita tutur yang disampaikan secara turun-temurun, bahwa Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi semula dilakukan oleh kaum lelaki yang membawa peralatan musik perkusi berupa kendang dan beberapa rebana (terbang). Mereka setiap hari berkeliling mendatangi tempat-tempat yang dihuni oleh sisa-sisa rakyat Balambangan sebelah timur (dewasa ini meliputi Kab. Banyuwangi) yang jumlahnya konon tinggal sekitar lima ribu jiwa, akibat peperangan yaitu penyerbuan Kompeni yang dibantu oleh Mataram dan Madura pada tahun 1767 untuk merebut Balambangan dari kekuasaan Mangwi, hingga berakirnya perang Bayu yang sadis, keji dan brutal dimenangkan oleh Kompeni pada tanggal 11 Oktober 1772. Konon jumlah rakyat yang tewas, melarikan diri, tertawan, hilang tak tentu rimbanya atau di selong (di buang) oleh Kompeni lebih dari enam puluh ribu jiwa. Sedang sisanya yang tinggal sekitar lima ribu jiwa hidup terlantar dengan keadaannya yang sangat memprihatinkan terpencar cerai-berai di desa-desa, di pedalaman, bahkan banyak yang belindung di hutan-hutan, terdiri dari para orang tua, para janda serta anak-anak yang tak lagi punya orang tua.(telah yatim piyatu) dan selain itu ada juga yang melarikan diri menyingkir ke negeri lain. Seperti ke Bali, Mataram, Madura dan lain sebagainya.
         Setelah usai pertunjukan Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi menerima semacam imbalan dari penduduk yang mampu berupa beras atau hasil bumi lainnya dan sebagainya. Dan sebenarnya yang tampaknya sebagai imbalan tersebut, merupakan sumbangan yang nantinya dibagi-bagikan kepada mereka yang keadaannya sangat memprihatinkan dipengungsian dan sangat memerlukan bantuan, baik mereka yang mengungsi di pedesaan, di pedalaman, atau yang bertahan hidup dihutan-hutan dengan segala penderitaannya walau peperang telah usai.
           Mengenai mereka yang bersikeras hidup di hutan dengan keadaannya yang memprihatinkan tersebut, disinggung oleh C. Lekerkerker yang menulis beberapa kejadian setelah Bayu dapat dihancurkan oleh gempuran Kompeni pada tanggal 11 Oktober 1772, antara lain sebagai berikut; Pada tanggal 7 Nopember 1772, sebanyak 2505 orang lelaki dan perempuan telah menyerahkan diri ke Kompeni, Van Wikkerman mengatakan bahwa Schophoff telah menyuruh menenggelamkan tawanan laki-laki yang dituduh mengobarkan amuk dan yang telah memakan dagingnya dari mayatnya Van Schaar. Juga dikatakan bahwa orang-orang Madura telah merebut para wanita dan anak-anak sebagai hasil perang. Sebagian dari mereka yang berhasil melarikan diri kedalam hutan telah meninggal karena kesengsaraan yang dialami mereka. Sehingga udara yang disebabkan mayat-mayat yang membusuk sampai jarak yang jauh. Yang lainnya menetap dihutan-hutan seperti; Pucang Kerep, Kali Agung, Petang dan sebagainya. Dan mereka bersikap keras tetap tinggal dalam hutan dengan segala penderitaannya.
Berkat munculnya Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi yang dimanfaatkan sebagai alat perjuang dan yang setiap saat acap kali mengadakan pagelaran dengan mendatangi tempat-tempat yang dihuni oleh sisa-sisa rakyat yang hidup bercerai-berai di pedesaan, di pedalaman dan bahkan sampai yang masih menetap di hutan-hutan dengan keadaannya yang memprihatinkan, kemudian mereka mau kembali kekampung halamannya semula untuk memulai membentuk kehidupan baru atau sebagaian dari mereka ikut membabat hutan Tirta Arum yang kemudian tinggal di ibukota yang baru di bangun atas prakarsa Mas Alit. Setelah selesai ibu kota yang baru dibangun dikenal dengan nama Banyuwangi sesuai dengan konotasi dari nama hutan yang dibabad (Tirta-arum). Dari keterangan tersebut terlihat jelas bahwa tujuan kelahiran kesenian ini ialah menyelamatkan sisa-sisa rakyat yang telah dibantai habis-habisan oleh Kompeni dan membangun kembali bumi Belambangan sebelah timur yang telah hancur porak-poranda akibat serbuan Kompeni (yaitu yang dewasa ini meliputi Daerah Kabupaten Banyuwangi).
Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi Wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi, seorang anak kecil yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun pada tahun 1895. Menurut cerita yang dipercaya, waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, namun Semi tak juga kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar seperti “Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing” (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi). Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan seblang sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya gandrung oleh wanita.
            Menurut catatan sejarah, Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan, menurut laporan Scholte (1927), instrumen utama yang mengiringi tarian gandrung lanang ini adalah kendang. Pada saat itu, biola telah digunakan. Namun demikian, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi sekitar tahun 1890an, yang diduga karena ajaran Islam melarang segala bentuk transvestisme atau berdandan seperti perempuan. Namun, tari gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yakni Marsan.
          Menurut sejumlah sumber, kelahiran Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi ditujukan untuk menghibur para pembabat hutan, mengiringi upacara minta selamat, berkaitan dengan pembabatan hutan yang angker.
           Tradisi Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya. Kesenian ini kemudian terus berkembang di seantero Banyuwangi dan menjadi ikon khas setempat. Pada mulanya gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya, namun sejak tahun 1970-an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung yang mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian di samping mempertahankan eksistensinya yang makin terdesak sejak akhir abad ke-20.

Pakaian
      Tata busana penari Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi khas, dan berbeda dengan tarian bagian Jawa lain. Ada pengaruh Bali (Kerajaaan Blambangan) yang tampak.
Bagian Tubuh
          Busana untuk tubuh terdiri dari baju yang terbuat dari beludru berwarna hitam, dihias dengan ornamen kuning emas, serta manik-manik yang mengkilat dan berbentuk leher botol yang melilit leher hingga dada, sedang bagian pundak dan separuh punggung dibiarkan terbuka. Di bagian leher tersebut dipasang ilat-ilatan yang menutup tengah dada dan sebagai penghias bagian atas. Pada bagian lengan dihias masing-masing dengan satu buah kelat bahu dan bagian pinggang dihias dengan ikat pinggang dan  sembong serta diberi hiasan kain berwarna-warni sebagai pemanisnya. Selendang selalu dikenakan di bahu.
Bagian Kepala
        Kepala dipasangi hiasan serupa mahkota yang disebut omprok yang terbuat dari kulit kerbau yang disamak dan diberi ornamen berwarna emas dan merah serta diberi ornamen tokoh Antasena, putra Bima] yang berkepala manusia raksasa namun berbadan ular serta menutupi seluruh rambut penari Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi. Pada masa lampau ornamen Antasena ini tidak melekat pada mahkota melainkan setengah terlepas seperti sayap burung. Sejak setelah tahun 1960-an, ornamen ekor Antasena ini kemudian dilekatkan pada omprok hingga menjadi yang sekarang ini.
Selanjutnya pada mahkota tersebut diberi ornamen berwarna perak yang berfungsi membuat wajah sang penari seolah bulat telur, serta ada tambahan ornamen bunga yang disebut cundhuk mentul di atasnya. Sering kali, bagian omprok ini dipasang hio yang pada gilirannya memberi kesan magis.
Bagian Bawah
        Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi menggunakan kain batik dengan corak bermacam-macam. Namun corak batik yang paling banyak dipakai serta menjadi ciri khusus adalah batik dengan corak gajah oling, corak tumbuh-tumbuhan dengan belalai gajah pada dasar kain putih yang menjadi ciri khas Banyuwangi. Sebelum tahun 1930-an, penari gandrung tidak memakai kaus kaki, namun semenjak dekade tersebut penari gandrung selalu memakai kaus kaki putih dalam setiap pertunjukannya.
Lain-Lain
         Pada masa lampau, penari gandrung biasanya membawa dua buah kipas untuk pertunjukannya. Namun kini penari gandrung hanya membawa satu buah kipas dan hanya untuk bagian-bagian tertentu dalam pertunjukannya, khususnya dalam bagian seblang subuh.
Musik Pengiring
        Musik pengiring untuk gandrung Banyuwangi terdiri dari satu buah kempul atau gong, satu buah kluncing (triangle), satu atau dua buah biola, dua buah kendhang, dan sepasang kethuk. Di samping itu, pertunjukan tidak lengkap jika tidak diiringi panjak atau kadang-kadang disebut pengudang (pemberi semangat) yang bertugas memberi semangat dan memberi efek kocak dalam setiap pertunjukan Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi. Peran panjak dapat diambil oleh pemain kluncing.
Selain itu kadang-kadang diselingi dengan saron Bali, angklung, atau rebana sebagai bentuk kreasi dan diiringi electone.
         Demikian artikel tentang Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi semoga bisa menambah wawasan kita mengenai tari-tarian yang ada di Nusantara ini, sekian dan terimakasih

TARI SERIMPI

Tari Serimpi Yogyakarta       Tarian Serimpi merupakan tarian bernuansa mistik yang berasal dari Yogyakarta. Tari Serimpi Yogyakarta ini diiringi oleh gamelan Jawa. Tari Serimpi Yogyakarta ini dimainkan oleh dua orang penari wanita. Gerakan tangan yang lambat dan gemulai, merupakan ciri khas dari tarian Serimpi. Tarian srimpi sangopati karya Pakubuwono IX ini, sebenarnya merupakan tarian karya Pakubuwono IV yang memerintah Kraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1788-1820 dengan nama Srimpi sangopati kata sangapati itu sendiri berasal dari kata “sang apati” sebuah sebutan bagi calon pengganti raja. Tari Serimpi Yogyakarta ini melambangkan bekal untuk kematian (dari arti Sangopati) diperuntukan kepada Belanda.
Dari namanya, Srimpi bersinonimkan bilang empat. Tari Serimpi Yogyakarta Jawa yang berasal dari Yogyakarta ini kebanyakan ditarikan oleh penari dengan jumlah empat orang diiringi oleh musik gamelan Jawa. Gerakan tangan yang lambat dan gemulai, merupakan ciri khas dari tarian Serimpi. Menurut Kanjeng Brongtodiningrat, komposisi penari Serimpi melambangkan empat unsur dari dunia, Yakni grama (api), angin (udara), toya (air), dan bumi (tanah).
        Selain itu kata “srimpi” juga diartikan dengan akar kata “impi” [dalam bahasa Jawa] atau mimpi. Serimpi merupakan seni yang adhiluhung serta dianggap pusaka Kraton. Tema yang ditampilkan pada Tari Serimpi Yogyakarta sebenarnya sama dengan tema pada tariBedhaya Sanga, yaitu menggambarkan pertikaian antara dua hal yang bertentangan antara baik dengan  buruk, antara benar dan salah antara akal manusia dan nafsu manusia.
Tari Serimpi Yogyakarta
         Dahulu Tari Serimpi Yogyakarta diperuntukan hanya untuk masyarakat di lingkungan istana Yogyakarta, yakni pada saat menyambut tamu kenegaraan atau tamu agung. Dalam perkembanganya, Tari Serimpi Yogyakarta mengalami perubahan, sebagai penyesuaian terhadap kebutuhan yang ada di dalam masyarakat saat ini. Salah satu penyesuaian yang dilakukan yakni pada segi durasi. Srimpi, versi zaman dahulu dalam setiap penampilannya bisa disajikan selama kurang lebih 1 jam. Sekarang, untuk setiap penampilan di depan umum [menyambut tamu negara], Tari Serimpi Yogyakarta ditarikan dengan durasi kurang lebih 11-15 menit saja dengan menghilangkan gerakan pengulangan dalam Tari Serimpi Yogyakarta.
Upaya pelestarian Tari Serimpi Yogyakarta banyak dilakukan di berbagai sanggar tari klasik yang banyak di temui di Yogyakarta.
Ada banyak jenis tari srimpi, diantaranya :

  • Tari serimpi sangopati
        Tari Serimpi Yogyakarta ini dimainkan oleh dua orang penari wanita. Tarian srimpi sangopati karya Pakubuwono IX ini, sebenarnya merupakan tarian karya Pakubuwono IV yang memerintah Kraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1788-1820 dengan nama Srimpi sangopati kata sangapati itu sendiri berasal dari kata “sang apati” sebuah sebutan bagi calon pengganti raja. Tari Serimpi Yogyakarta ini melambangkan bekal untuk kematian (dari arti Sangopati) diperuntukan kepada Belanda.

  • Tari Srimpi Anglirmendhung
         Menurut R.T. Warsadiningrat, Anglirmedhung ini digubah oleh K.G.P.A.A.Mangkunagara I. Semula terdiri atas tujuh penari, yang kemudian dipersembahkan kepada Sinuhun Paku Buwana. Tetapi atas kehendak Sinuhun Paku Buwana IV Tari Serimpi Yogyakarta ini dirubah sedikit, menjadi Srimpi yang hanya terdiri atas empat penari saja.

  • Tari Srimpi Ludira Madu
           Tari Srimpi Ludira Madu ini diciptakan oleh Paku Buwono V ketika masih menjadi putra mahkota Keraton Surakarta dengan gelar sebutan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom.Tari Serimpi Yogyakarta ini diciptakan untuk mengenang ibunda tercinta yang masih keturunan Madura, yaitu putri Adipati Cakraningrat dari Pamekasan. Ketika sang ibu meninggal dunia, Pakubuwono V masih berusia 1 ½ tahun , dan masih bernama Gusti Raden Mas Sugandi. Jumlah penari dalam tarian ini adalah 4 orang putri. Dalam Tari Serimpi Yogyakarta ini digambarkan sosok seorang ibu yang bijaksana dan cantik seperti jelas dituliskan pada syair lagu Srimpi Ludira Madu. Nama Ludira Madu diambil dari makna Ludira Madura yang berarti “ Darah/ keturunan Madura”.

  • Tari Serimpi Renggawati.
       Salah satu jenis Tari Serimpi Yogyakarta putri klasik gaya Yogyakarta, yang diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana V. Penari Serimpi Renggawati berjumlah 5 orang. Membawakan cerita petikan dari “Angling Darmo” yang magis, dengan menggunakan tambahan properti sebatang pohon dan seekor burung mliwis putih.

  • Tari Serimpi Cina.
       Salah satu jenis Tari Serimpi Yogyakarta putri klasik di Istana Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ada kekhususan pada tari Serimpi cina, yaitu busana para penari menyesuaikan dengan pakaian cina.

  • Tari Serimpi Pistol.
         Salah satu jenis Tari Serimpi Yogyakarta putri klasik gaya Yogyakarta, yang diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana VII. Kekhususan tarian ini terletak pada properti yang digunakan yaitu pistol.

  • Tari Serimpi Padhelori.
        Salah satu jenis Tari Serimpi Yogyakarta putri klasik gaya Yogyakarta, yang diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana VI dan VII. Properti yang digunakan dalam tarian ini berupa pistol dan cundrik. Membawakan cerita petikan dari “Menak”, ialah perang tanding Dewi Sirtu Pelaeli dan dewi Sudarawerti, sebagaimana dikisahkan dalam syair vokalianya. Tari Serimpi Padhelori mempergunakan lagu pengiring utama Gending Pandhelori.

  • Tari Serimpi Merak Kasimpir.
         Salah satu jenis Tari Serimpi Yogyakarta putri klasik gaya Yogyakarta, yang diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana VII. Properti yang digunakan dalam tarian ini berupa pistol dan jemparing. Gending yang dipergunakan untuk mengiringi tari Serimpi Merak Kasimpir adalah Gending Merak Kasimpir.

TARI PENDET

         Seperti dikutip dari ISI Denpasar, lahirnya tari Pendet adalah sebuah ritual sakral odalan di pura yang disebut mamendet atau mendet. Prosesi mendet berlangsung setelah pendeta mengumandangkan puja mantranya dan seusai pementasan  topeng sidakarya—teater sakral yang secara filosofis melegitimasi upacara keagamaan. Hampir setiap pura besar hingga kecil di Bali disertai dengan aktivitas mamendet. Pada beberapa pura besar seperti Pura Besakih yang terletak di kaki Gunung Agung itu biasanya secara khusus menampilkan ritus mamendet dengan tari Baris Pendet. Tari ini dibawakan secara berpasangan atau secara masal oleh kaum pria dengan membawakan perlengkapan sesajen dan bunga.

         Tari Pendet bercerita tentang turunnya dewi-dewi kahyangan ke bumi. Biasanya menurut  gentra.lk.ipb.ac.id, Tari Pendet dibawakan secara berkelompok atau berpasangan oleh para putri, dan lebih dinamis dari tari Rejang. Ditampilkan setelah tari Rejang di halaman Pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih).

          Para penari Pendet berdandan layaknya para penari upacara keagamaan yang sakral lainnya, dengan memakai pakaian upacara, masing-masing penari membawa perlengkapan sesajian persembahan seperti sangku (wadah air suci), kendi, cawan, dan yang lainnya.Seperti dikutip dari ISI Denpasar, lahirnya tari Pendet adalah sebuah ritual sakral odalan di pura yang disebut mamendet atau mendet. Prosesi mendet berlangsung setelah pendeta mengumandangkan puja mantranya dan seusai pementasan  topeng sidakarya—teater sakral yang secara filosofis melegitimasi upacara keagamaan. Hampir setiap pura besar hingga kecil di Bali disertai dengan aktivitas mamendet. Pada beberapa pura besar seperti Pura Besakih yang terletak di kaki Gunung Agung itu biasanya secara khusus menampilkan ritus mamendet dengan tari Baris Pendet. Tari ini dibawakan secara berpasangan atau secara masal oleh kaum pria dengan membawakan perlengkapan sesajen dan bunga.

         Tari Pendet bercerita tentang turunnya dewi-dewi kahyangan ke bumi. Biasanya menurut  gentra.lk.ipb.ac.id, Tari Pendet dibawakan secara berkelompok atau berpasangan oleh para putri, dan lebih dinamis dari tari Rejang. Ditampilkan setelah tari Rejang di halaman Pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih).

         Para penari Pendet berdandan layaknya para penari upacara keagamaan yang sakral lainnya, dengan memakai pakaian upacara, masing-masing penari membawa perlengkapan seajian persembahan seperti sangku (wadah air suci), kendi, cawan, dan yang lainnya.

Lukisan Tari Pendet oleh Pelukis : Sunaryo

            Pada dasarnya dalam tarian ini para gadis muda hanya mengikuti gerakan penari perempuan senior yang ada di depan mereka, yang mengerti tanggung jawab dalam memberikan contoh yang baik. Tidak memerlukan pelatihan intensif.
Sejarah Perkembangan :
1950. Tari Pendet disepakati lahir.Tari Pendet tetap mengandung anasir sakral-religius dengan menyertakan muatan-muatan keagamaan yang kental. Pada 1961, I Wayan Beratha  mengolah kembali tari pendet tersebut dengan pola seperti sekarang, termasuk menambahkan jumlah penarinya menjadi lima orang. Berselang setahun kemudian, I Wayan Beratha dan kawan-kawan menciptakan tari pendet massal dengan jumlah penari tidak kurang dari 800 orang, untuk ditampilkan dalam upacara pembukaan Asian Games di Jakarta. 
              1967. Koreografer bentuk modern Tari Pendet :
Pencipta atau koreografer bentuk modern tari Pendet ini adalah I Wayan Rindi (?-1967), merupakan penari yang dikenal luas sebagai penekun seni tari dengan kemampuan menggubah tari dan melestarikan seni tari Bali melalui pembelajaran pada generasi penerusnya. Semasa hidupnya ia aktif mengajarkan beragam tari Bali, termasuk tari Pendet kepada keturunan keluarganya maupun di luar lingkungan keluarganya.

Selasa, 26 Februari 2013

Sejarah Wayang Kulit Dan Perkembangan Di Indonesia


          Wayang salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni  suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni  perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan. Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. 
         Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia. Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. Para dewa dalam pewayangan bukan lagi merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan seperti juga makhluk Tuhan lainnya, kadang-kadang bertindak keliru, dan bisa jadi khilaf. Hadirnya tokoh panakawan dalam_ pewayangan sengaja diciptakan para budayawan In­donesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk mem­perkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik, dan yang benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan. Dalam disertasinya berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (1897), ahli sejarah kebudayaan Belanda Dr. GA.J. Hazeau menunjukkan keyakinannya bahwa wayang merupakan pertunjukan asli Jawa. Pengertian wayang dalam disertasi Dr. Hazeau itu adalah walulang inukir (kulit yang diukir) dan dilihat bayangannya pada kelir. Dengan demikian, wayang yang dimaksud tentunya adalah Wayang Kulit seperti yang kita kenal sekarang. 
         Mengenai asal-usul wayang ini, di dunia ada dua pendapat. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Di antara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, 
dan Kruyt. Alasan mereka cukup kuat. Di antaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa. Panakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di negara lain. 
        Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna), dan bukan bahasa lain. Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindu ke Indonesia. Mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India. Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku pe­wayangan seolah sudah sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa, dan sama sekali tidak diimpor dari negara lain. Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indo­nesia setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976 -1012), yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmur­nya. Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, sejak abad X. Antara lain, naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910), yang merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga In­dia, Walmiki. Selanjutnya, para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke bahasa Jawa Kuna, tetapi menggubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa kedalamnya. Contohnya, karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabarata. Gubahan lain yang lebih nyata bedanya derigan cerita asli versi In­dia, adalah Baratayuda Kakawin karya Empu Sedah dan Empu Panuluh. Karya agung ini dikerjakan pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya, raja Kediri (1130 - 1160). Wayang sebagai suatu pergelaran dan tontonan pun sudah dimulai ada sejak zaman pemerintahan raja Airlangga. Beberapa prasasti yang dibuat pada masa itu antara lain sudah menyebutkan kata-kata "mawa­yang" dan `aringgit' yang maksudnya adalah per­tunjukan wayang. Mengenai saat kelahiran budaya wayang, Ir. Sri Mulyono dalam bukunya Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang (1979), memperkirakan wayang sudah ada sejak zaman neolithikum, yakni kira-kira 1.500 tahun sebelum Masehi. Pendapatnya itu didasarkan atas tulisan Robert von Heine-Geldern Ph. D, Prehis­toric Research in the Netherland Indie (1945) dan tulisan Prof. K.A.H. Hidding di Ensiklopedia Indone­sia halaman 987. Kata `wayang' diduga berasal dari kata `wewa­yangan', yang artinya bayangan. Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir, secarik kain, sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang, dan penonton di balik kelir itu. Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir. Pada masa itu pergelaran wayang hanya diiringi oleh seperangkat gamelan sederhana yang terdiri atas saron, todung (sejenis seruling), dan kemanak. Jenis gamelan lain dan pesinden pada masa itu diduga belum ada. Untuk lebih menjawakan budaya wayang, sejak awal zaman Kerajaan Majapahit diperkenalkan cerita wayang lain yang tidak berinduk pada Kitab Ramayana dan Mahabarata. Sejak saat itulah cerita­cerita Panji; yakni cerita tentang leluhur raja-raja Majapahit, mulai diperkenalkan sebagai salah satu bentuk wayang yang lain. Cerita Panji ini kemudian lebih banyak digunakan untuk pertunjukan Wayang Beber. 
        Tradisi menjawakan cerita wayang juga diteruskan oleh beberapa ulama Islam, di antaranya oleh para Wali Sanga. Mereka mulai mewayangkan kisah para raja Majapahit, di antaranya cerita Damarwulan. 
Masuknya agama Islam ke Indonesia sejak abad ke-15 juga memberi pengaruh besar pada budaya wayang, terutama pada konsep religi dari falsafah wayang itu. Pada awal abad ke-15, yakni zaman Kerajaan Demak, mulai digunakan lampu minyak berbentuk khusus yang disebut blencong pada pergelaran Wayang Kulit. Sejak zaman Kartasura, penggubahan cerita wayang yang berinduk pada Ramayana dan mahabarata makin jauh dari aslinya. Sejak zaman itulah masyarakat penggemar wayang mengenal silsilah tokoh wayang, termasuk tokoh dewanya, yang berawal dari Nabi Adam. Sisilah itu terus berlanjut hingga sampai pada  raja-raja di Pulau Jawa. Dan selanjutnya, mulai dikenal pula adanya cerita wayang pakem. yang sesuai standar cerita, dan cerita wayang carangan yang diluar garis standar. Selain itu masih ada lagi yang disebut lakon sempalan, yang sudah terlalu jauh keluar dari cerita pakem. Memang, karena begitu kuatnya seni wayang berakar dalam budaya bangsa Indonesia, sehingga terjadilah beberapa kerancuan antara cerita wayang, legenda, dan sejarah. 
         Jika orang India beranggapan bahwa kisah Mahabarata serta Ramayana benar-benar terjadi di negerinya, orang Jawa pun menganggap kisah pewayangan benar-benar pernah terjadi di pulau Jawa. Dan di wilayah Kulonprogo sendiri wayang masih sangatlah diminati oleh semua kalangan. Bukan hanya oleh orang tua saja, tapi juga anak remaja bahkan anak kecil juga telah biasa melihat pertunjukan wayang. Disamping itu wayang juga biasa di gunakan dalam acara-acara tertentu di daerah kulonprogo ini, baik di wilayah kota Wates ataupun di daerah pelosok di Kulonprogo.

Sumber Pustaka :

Hidding. 1945. Ensiklopedia IndonesiaW. Van Hoeve, Bandung

Sukmo. 1973. Pengantar Kebudayaan I. Kanisius: Bandung

Perkembangan Budaya Batik Di Indonesia dari Tahun1920 Hingga 2005


       Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. Definisi Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya tebentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, pakaian, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya juga dapat diartikan sebagai suatu pola hidup menyeluruh, budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan prilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain. Kebudayaan Indonesia bisa diartikan seluruh ciri khas suatu daerah yang ada sebelum terbentuknya nasional indonesia, yang termasuk kebudayaan Indonesia itu adalah seluruh kebudayaan lokal dari seluruh ragam suku-suku di Indonesia.

       Kerajinan batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman Majapahit dan terus berkembang  hingga  kerajaan  berikutnya.  Meluasnya  kesenian  batik  menjadimilik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap dikenal baru setelah usai Perang Dunia I atau sekitar 1920. Kini batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia. Batik  adalah  salah  satu  cara  pembuatan  bahan  kain.  Selain  itu  batik  bisa mengacu  pada  dua  hal.  Yang  pertama  adalah  teknik  pewarnaan  kain  dengan menggunakan  malam,  teknik  ini  adalah  salah  satu  bentuk  seni  kuno  yang berguna  untuk  mencegah  pewarnaan  sebagian  dari  kain.  Dalam  literature Internasional,  teknik  ini  dikenal  sebagai  wax-resist  dyeing.  Pengertian  kedua adalah   kain   atau   busana   yang   dibuat   dengan   teknik   tersebut,   termasuk penggunaan  motif-motif  tertentu  yang  memiliki  kekhasan.  Batik  Indonesia,sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta  pengembangan motif dan budaya yang terkait.
     Batik  juga  termasuk  jenis   kerajinan  yang  memiliki  nilai  seni  tinggi  dan  telah menjadi   bagian   dari budaya   Indonesia    (khususnya   Jawa)   sejak   lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam  membatik  sebagai  mata  pencaharian,  sehingga  di  masa  lalu  pekerjaan membatik   adalah   pekerjaan   eksklusif   bagi   kaum   perempuan.   Semenjak
industrialisasi dan globalisasi,  yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis   baru   muncul,   dikenal   sebagai   "Batik   Cap   dan   Batik   Cetak",   yang memungkinkan  masuknya  laki-laki  ke  dalam  bidang  ini.  Pengecualian  bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat   pada   corak   "Mega   Mendung",   dimana   di   beberapa   daerah   pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki. Sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan  menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Tradisi   membatik   pada   mulanya   merupakan   tradisi   yang   turun   temurun, sehingga  kadang  kala  suatu  motif  dapat  dikenal  berasal  dari  batik  keluarga tertentu.  Beberapa  motif  batik  dapat  menunjukkan  status  seseorang.  Bahkan
sampai  saat  ini,  beberapa  motif  batik  tradisonal  hanya  dipakai  oleh  keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.

      Sejarah  batik  yang  tepat  tidak  dapat  dipastikan  tetapi  artifak  batik  berusia lebih  2000  tahun  pernah  ditemui.  Dari  manapun  asalnya,  hasil  seni  ini  telah menjadi warisan peradaban dunia. Jenis corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing   daerah   yang   amat   beragam.   Khas   budaya   Bangsa   Indonesia   yang demikian   kaya   telah   mendorong   lahirnya   berbagai   corak   dan   jenis   batik tradisional dengan ciri kekhususannya sendiri. Pemakaian   batik   dalam   busana   tradisi   mempunyai   sejarah   yang   lama berlangsung  dari  zaman  awal  tamadun  Melayu.  Dipakai  oleh  semua  golongan, dari raja ke bangsawan sampai rakyat jelata, batik menzahirkan dirinya sebagai seni  asli  yang  praktikal  dan  popular.  Dalam  tradisi  penulisan  kain  cindai misalnya  disebut  dalam  banyak  hikayat-hikayat  silam.  Batik  menjadi  hadiah perpisahan dan perlambangan cinta dalam hikayat Malim Demam dan dijadikan tanda penganugerahan derajat dalam Hikayat Hang Tua.

       Sejarah  pembatikan  di  Indonesia  berkaitan  dengan  perkembangan  kerajaan majapahit dan kerajaan  sesudahnya. Dalam  beberapa catatan, pengembangan batik  banyak  dilakukan  pada  masa-masa  kerajaan  Mataram,  kemudian  pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta. Kesenian  batik  merupakan  kesenian  gambar  di  atas  kain  untuk  pakaian  yang menjadi  salah  satu  kebudayaan  keluarga  raja-raja  Indonesia  zaman  dahulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian  raja  dan  keluarga  serta  para  pengikutnya.  Oleh  karena  banyak  dari pengikut raja yang tinggal di luar kraton, maka kesenian batik ini dibawah oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing. Dalam  perkembangannya  lambat  laun  kesenian  batik  ini  ditiru  oleh  rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya  untuk  mengisi  waktu  senggang.  Selanjutnya,  batik  yang  tadinya hanya   pakaian   keluarga   istana,   kemudian   menjadi   pakaian   rakyat   yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedangkan bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri  dari  tumbu-tumbuhan  asli  Indonesia  yang  dibuat  sendiri  antara  lain  : pohon  mengkudu,  soga,  nila,  dan  bahan  sodanya  dibuat  dari  soda  abu,  serta garamnya dibuat dari tanah lumpur. Jadi kerajinan batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan  terus  berkembang  hingga  kerajaan  berikutnya.  Adapun  mulai  meluasnya
kesenian  batik  ini  menjadi  milik  rakyat  Indonesia  dan  khususnya  suku  Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah  usai  perang  dunia  kesatu  atau  sekitar  tahun  1920.  Kini  batik  sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia.

  1. Ragam  corak  dan  warna  Batik  dipengaruhi  oleh  berbagai  pengaruh  asing. Awalnya, batik memiliki ragam  corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak  hanya  boleh  di  pakai  oleh  kalangan  tertentu.  Namun  batik  pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan  juga para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga  mempopulerkan  corak  phoenix.  Batik  tradisional  tetap  mempertahankan coraknya,  dan  masih  dipakai  dalam  upacara-upacara  adat,  karena  biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing. Adapun jenis-jenis Batik Berdasarkan Corak / Motifnya yang ada di Indonesia sampai saat ini adalah sebagai berikut : Batik Pekalongan Pasang  surut  perkembangan  batik  Pekalongan,  memperlihatkan  pekalongan layak menjadi ikon bagi perkembangan batik di Nusantar. Ikon bagi karya seni yang  tak  pernah  menyerah  dengan  perkembangan  zaman  dan  selalu  dinamis. Kini  batik  sudah  menjadi  nafas  kehidupan  sehari-hari  warga  Pekalongan  dan merupakan  salah  satu  produk  unggulan.  Hal  ini  disebabkan  oleh  banyaknya industri  yang  menghasilakan  produk  batik.  Karena  terkenal  dengan  produk batiknya, Pekalongan dikenal sebagai Kota Batik. Julukan itu datang dari suatu tradisi  yang cukup lama berakar di Pekalongan. Selama periode yang  panjang itulah,   aneka   sifat,   ragam   kegunaan,   jenis   rancangan,   serta   mutu   batik ditentukan  oleh  iklim  dan  keberadaan  serat-serat  setempat,  faktor  sejarah perdagangan   dan   kesiapan   masyarakatnya   dalam   menerima   paham   serta pemikiran baru. Batik   Pekalongan   termasuk   batik   pesisir   yang   paling   kaya   akan   warna. Sebagaimana ciri khas batik pesisir, ragam hiasnya biasanya bersifat naturalis. Jika  dibandingkan  dengan  batik  pesisir  lainnya  Batik  Pekalongan  ini  sangat dipengaruhi  pendatang  keturunan  China  dan  Belanda.  Motif  Batik  Pekalongan sangant  bebas,  dan  menarik,  meskipun  sering  kali  dimodifikasi  dengan  variasi warna  yang  atraktif.  Tak  jarang  pada  sehelai  kain  batik  dijumpai  hingga  8 warna yang berani, dan kombinasi yang dinamis. Keistimewaan  Batik  Pekalongan  adalah,  para  pembatiknya  selalu  mengikuti perkembangan  zaman.  Misalnya  pada  waktu  penjajahan  jepang,  maka  lahir batik dengan nama " Batik Jawa Hokokai" yaitu batik dengan motif dan warna yang  mirip  kimono  Jepang.  Pada  tahun  enam  puluhan  juga  diciptakan  batik dengan nama "Tritura". Bahkan pada tahun 2005, sesaat setelah presiden SBY diangkat muncul batik dengan motif "SBY" yaitu motif batik yang mirip dengan kain tenun ikat dan songket. Warga Pekalongan tidak perna kehabisan ide untuk membuat kreasi motif batik.
  2. Batik Mega MendungHampir  di  seluruh  wilayah  Jawa  memiliki  kekayaan  budaya  batik  yang khas.  tentu  saja  ada  daerah-daerah  yang  lebih  menonjol  seperti  Solo,  Yogya, dan  Pekalongan.  tetapi  kekayaan  seni  batik  daerah  Cirebon  juga  tidak  kalah disbanding kota-kota lainnya. Menurut   sejarahnya,   di   daerah   cirebon   terdapat   pelabuhan   yang   ramai disinggahi  berbagai  pendatang  dari  dalam   maupun  luar   negri.  Salah  satu pendatang yang cukup berpengaruh adalah pendatang dari Cina yang membawa kepercayaan dan seni dari negerinya. Dalam  Sejarah  diterangkan  bahwa  Sunan  Gunung  Jati  yang  mengembangkan ajaran  Islam  di  daerah  Cirebon  menikah  dengan  seorang  putri  Cina  Bernama Ong TIe. Istri beliau ini sangat menaruh perhatian pada bidang seni, khususnya keramik.  Motif-motif  pada  keramik  yang  dibawa  dari  negeri  cina  ini  akhirnya mempengaruhi motif-motif batik hingga terjadi perpaduan antara kebudayaan Cirebon-Cina. Salah  satu  motif  yang  paling  terkenal  dari  daerah  Cirebon  adalah  batik  Mega Mendung  atau  Awan-awanan.  Pada  motif  ini  dapat  dilihat  baik  dalam  bentuk maupun warnanya bergaya selera cina. Motif  Mega  Mendung  melambangkan  pembawa  hujan  yang  di  nanti-natikan sebagai  pembawa  kesuburan,  dan  pemberi  kehidupan.  Motif  ini  didominasi dengan   warna   biru,   mulai   biru   muda   hingga   biru   tua.   Warna   biru   tua menggambarkan  awan gelap yang mengandung air hujan, pemberi  kehidupan, sedangkan warna biru muda melambangkan semakin cerahnya kehidupan.
  3. Batik motif TruntunBoleh dibilang motif Truntum  merupakan simbol dari cinta yang bersemi kembali.  Menurut  kisahnya,  motif  ini  diciptakan  oleh  seorang  Ratu  Keraton Yogyakarta. Sang  Ratu  yang  selama  ini  dicintai  dan  dimanja  oleh  Raja,  merasa  dilupakan oleh  Raja  yang  telah  mempunyai  kekasih  baru.  Untuk  mengisi  waktu  dan menghilangkan  kesedihan,  Ratu  pun  mulai  membatik.  Secara  tidak  sadar  ratu membuat  motif  berbentuk  bintang-bintang  di  langit  yang  kelam,  yang  selama ini menemaninya dalam kesendirian. Ketekunan Ratu dalam membatik menarik perhatian    Raja    yang    kemudian    mulai    mendekati    Ratu    untuk    melihat pembatikannya.  Sejak  itu  Raja  selalu  memantau  perkembangan  pembatikan Sang  Ratu,  sedikit  demi  sedikit  kasih  sayang  Raja  terhadap  Ratu  tumbuh kembali.  Berkat  motif  ini  cinta  raja  bersemi  kembali  atau  tum-tum  kembali, sehingga  motif  ini  diberi  nama  Truntum,  sebagai  lambang  cinta  Raja  yang bersemi kembali.
  4. Batik JlamprangMotif  -  motif  Jlamprang  atau  di  Yogyakarta  dengan  nama  Nitik  adalah salah   satu   batik   yang   cukup   popular   diproduksi   di   daerah   Krapyak Pekalongan.  Batik  ini  merupakan  pengembangan  dari  motif  kain  Potola  dari India yang berbentuk geometris kadang berbentuk bintang atau mata angin dan menggunakan ranting yang ujungnya berbentuk segi empat. Batik Jlamprang ini diabadikan menjadi salah satu jalan di Pekalongan.
  5. Batik PegantinSetiap   motif   pada   batik   tradisional   klasik   selalu   memiliki   filosofi tersendiri. Pada motif Batik, Khususnya dari daerah jawa tengah, terutama Solo dan  Yogya,  setiap  gambar  memiliki  makna.  Hal  ini  ada  hubungannya  dengan arti  atau  makna  filosofis  dalam  kebudayaan  Hindu-Jawa.  Pada  motif  tertentu ada  yang  dianggap  sakral  dan  hanya  dapat  dipakai  pada  kesempatan  atau peristiwa tertentu, diantaranya pada upacara perkawinan. Motif  Sido-Mukti biasanya dipakai  oleh pengantin pria dan wanita pada acara perkawinan,  dinamakan  juga  sebagai  Sawitan  (sepasang).  Sido  berarti  terus menerus  atau  menjadi  dan  mukti  berarti  hidup  dalam  berkecukupan  dan kebahagiaan.  jadi  dapat  disimpulkan  motif  ini  melambangka  harapan  akan masa depan yang baik, penuh kebahagiaan  unuk kedua mempelai. Selain Sido Mukti terdapat pula motif Sido Asih yang maknanya hidup dalam kasih sayang. Masih ada lagi motif Sido Mulyo yang berarti hidup dalam kemuliana dan Sido Luhur yang berarti dalam hidup selalu berbudi luhur. Ada pula motif yang bukan sawitan kembar, tetapi biasanya dipakai pasangan pengantin  yaiu  motif  Ratu  Ratih  berpasangan  dengan  Semen  Rama,  yang melambangkan  kesetiaan  seorang  istri  kepada  suaminya.  Sebenarnya  masih banyak lagi motif yang biasa dipakai pasangan pengantin, semuanya diciptakan dengan  melambangkan  harapan,  pesan,  niat  dan  itikad  baik  kepada  pasangan pengantin.  Pada  Upacara  Perkawinan  Orang  tua  pengantin  biasanya  memakai motif  Truntum  yang  dapat  pula  berarti  menuntun,  yang  maknanya  menuntun kedua  mempelai  dalam  memasuki  liku-liku  kehidupan  baru  yaitu  berumah tangga. Dikenal  juga  motif  Sido  Wirasat,  wirasat  berarti  nasehat,  dan  pada  motif  ini selalu  terdapat  kombinasi  motif  truntum  di  dalamnya,  yang  melambangkan orangtua  akan  selalu  memberi  nasehat  dan  menuntun  kedua  mempelai  dalam memasuki kehidupan berumahtangga. 
  6. Batik Tiga NegeriKerumitan  membuat  sepotong  batik  tulis  ternyata  masih  belum  cukup  jika kita tahu sejarah motif Batik Ttiga Negeri. Motif Batik Tiga Negeri merupakan gabungan batik khas Lasem, Pekalongan dan Solo, pada jaman kolonial wilayah memiliki  otonomi  sendiri  dan  disebut  negeri.  Mungkin  kalau  hanya  perpaduan motifnya yang khas masing-masing daerah masih wajar dan biasa, tetapi yang membuat batik ini memiliki nilai seni tinggi adalah prosesnya. Konon menurut para   pembatik,   air   disetiap   daerah   memiliki   pengaruh   besar   terhadap pewarnaan,  dan  ini  masuk  akal  karena  kandungan  mineral  air  tanah  berbeda menurut letak geografisnya. Maka dibuatlah batik ini di masing-masing daerah. Pertama, kain batik ini dibuat di Lasem dengan warna merah yang khas, seperti merah darah, setelah itu kain batik tersebut dibawa ke Pekalongan dan dibatik dengan  warna biru, dan  terakhir kain  diwarna coklat sogan yang  khas di  kota Solo. Mengingat sarana transportasi pada zaman itu tidak sebaik sekarang, maka kain Batik Tiga Negeri ini dapat dikatakan sebagai salah satu masterpiece batik.
Sumber Pustaka : 
Mulyana D, Jalaluddin R. 2006. Komunikasi  Antarbudaya:Panduan
Berkomunikasi  dengan  Orang-Orang  Berbeda  Budaya. Bandung: Remaja
Rosdakarya. 

Wilson, Edward O. 1998. Consilience: The Unity of Knowledge. Vintage: New
York.